Menyelenggarakan pendidikan dengan civitas akademika multi agama. program sholat dzuhur berjamaah menjadi tantangan tersendiri. SMP Negeri 1 Berbah dengan 95% civitas akademikanya beragama Islam, seharusnya jamaah sholat duhur mudah dilaksanakan namun ada banyak tantangan yang perlu dijawab

  1. Jadwal pembelajaran dengan 5 hari cukup padat
  2. Mushola atau masjid terlalu kecil untuk 400 jamaah
  3. Tempat wudu yang yang kurang memadai
  4. Keberadaan SDM Guru/Karyawan yang mampu dan layak menjadi imam
  5. Siswa yang belum sadar bahwa sholat dzuhur itu wajib

Kondisi real yang harus diperbaiki
Pijakan Aman untuk Siswa: Mengubah Potensi Bahaya Menjadi Fasilitas Belajar yang Layak

            Setiap hari, suasana di SMP N 1 Berbah selalu berdenyut kencang saat bel istirahat dan panggilan azan berkumandang. Ratusan langkah kaki bergegas menyusuri jalan utama sekolah sebuah jalur paling vital yang menghubungkan dua pusat aktivitas harian para siswa, yaitu menuju kantin untuk mengisi energi dan mushola untuk menunaikan ibadah. Namun, di balik semangat dan riuhnya mobilitas tersebut, ada bahaya nyata yang mengintai tepat di bawah pijakan kaki mereka. Kondisi paving blok yang rusak parah, bergelombang, hingga hancur berkeping-keping kini bukan lagi sekadar pemandangan yang kurang sedap dipandang, melainkan ancaman keselamatan yang hadir setiap detik. Membiarkan jalur sesibuk ini dalam keadaan hancur sama saja dengan membiarkan risiko cedera mengintai anak-anak kita setiap kali mereka melangkah.             Bayangkan ketika ratusan siswa berdesakan dan terburu-buru mengejar waktu istirahat yang terbatas. Permukaan tanah yang tidak rata dan tonjolan pecahan paving yang tajam menjadi perangkap tak terlihat. Tidak sedikit siswa yang tersandung, terkilir, atau bahkan jatuh tersungkur. Masalah ini kian kompleks ketika musim hujan tiba, celah-celah paving yang hancur berubah menjadi genangan air keruh dan licin. Seragam sekolah yang putih bersih kerap ternoda cipratan air kotor tepat sebelum siswa memasuki kawasan suci mushola untuk mengambil wudu. Sebaliknya, saat musim kemarau, kikisan debu halus dari material yang hancur berisiko terbang dan mencemari kebersihan makanan di area kantin, yang pada akhirnya mengancam kesehatan pernapasan dan pencernaan siswa

Aksesibilitas dan reputasi sekolah pun dipertaruhkan di sini. Jalur yang hancur ini menjadi hambatan besar bagi siswa maupun guru yang mungkin sedang mengalami cedera atau keterbatasan fisik. Lebih dari itu, sebagai koridor utama yang paling sering dilalui dan terlihat oleh orang tua murid, tamu dinas, hingga pengawas sekolah, kondisi infrastruktur yang terbengkalai ini perlahan mengikis citra positif SMP Negeri 1 Berbah. Dari sudut pandang finansial, menunda perbaikan saat ini adalah keputusan yang tidak efisien, pembiaran hanya akan memperparah kerusakan paving blok, yang berujung pada pembengkakan biaya rekonstruksi yang jauh lebih besar di masa depan.

            Perbaikan paving blok ini bukan tentang proyek estetika semata, melainkan tentang tanggung jawab moral untuk menciptakan ruang belajar yang aman dan beradab. Menghadirkan kembali permukaan jalan yang rata, bersih, dan kokoh adalah bentuk kepedulian paling nyata yang bisa kita berikan kepada seluruh warga sekolah. Ketika keselamatan anak-anak terjamin, kebersihan ibadah terjaga, dan kehigienisan kantin terlindungi, tidak ada alasan untuk menunda. Seluruh warga sekolah, orang tua, dan pihak pengelola pasti akan berdiri di barisan yang sama untuk menyetujui bahwa perbaikan jalan ini adalah kebutuhan mendesak yang harus direalisasikan sekarang juga.

Perbaikan yang diharapkan
1. Tempat wudu yang representative

2. Jalan mmenuju masjid/mushola yang Aman…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *